
Oleh: Winanda
(Mahasiswi Ilmu Politik Universitas Andalas)
KORUPSI tak hanya sekadar penggelapan dana negara, tak hanya sekedar penyuapan besar-besaran yang dilakukan oleh para penjabat. Dalam kehidupan sehari hari ini, sering kali kita abai bahwa korupsi mungkin sudah menjadi bagian dari proses kehidupan kita, bagaimana kita melakukan aktivitas apalagi jika konteksnya menyangkut ekonomi. Semua orang berlomba-lomba agar mereka tetap untung.
Banyak di antara kita menyuarakan jika korupsi merugikan banyak orang, korupsi adalah kejahatan, tanpa disadari perilaku kecil pun di dalam kehidupan kita, bisa juga merugikan orang lain, apa contohnya?
Kita ambil saja contoh saat berbelanja di pasar, penjual mengurangi timbangan yang dibeli oleh pembeli, pungutan liar yang sering di lakukan di masyarakat karna alasan untuk kepentingan bersama, padahal aslinya digunakan hanya untuk keuntungan beberapa pihak.
Pungutan yang seharusnya tidak dilakukan dan tilep uang, hal ini sering ada di realitas sosial masyarakat, mencuri harta benda dan uang secara elegan. Terdapat banyak penipuan yang dilakukan untuk menguntungkan diri sendiri saja.
Sebenarnya hal ini menimbulkan pro dan kontra, banyak yang beranggapan selagi rakyat yang melakukannya, itu tak apa-apa, karena itu bertujuan menguntungkan rakyat, namun jika diliat, itu hanya menguntungkan beberapa kepentingan saja, tidak benar benar untuk semua orang.
Nestapanya hal ini justru masih di normalisasi, lantas, apakah ini sama saja dengan penjabat yang mengkorupsi dana hingga ratusan miliar bahkan triliunan? Hanya saja, beda nominal, tempat dan situasi serta status?
Sering kali kita mendengar, bahwa pemimpin cerminan rakyat. Pemimpin berasal dari rakyat, jika nanti pada akhirnya kita membiasakan kebiasaan “korupsi” untuk terus tumbuh merekah dan terus dilakukan maka saat rakyat itu akhirnya menjadi pemimpin, dihadapkan pada kekuasaan maupun kekayaan, niscaya akan semakin besar potensi dirinya untuk melakukan korupsi.
Memang jika membicarakan korupsi ada banyak sekali contohnya, misal juga korupsi waktu, mencurangi orang lain demi keuntungan kita sendiri. Jadi apakah korupsi dapat dikatakan sebuah kebiasaan?
Saat membicarakan korupsi secara konteks serius, kita akan melihat kepada sebuah sistem itu sendiri dan orang yang ada di dalam sistem itu, dari sekian banyak penyebab korupsi, semua ada kaena kesempatan dan rasa tak cukup, jika ingin sistem yang benar benar baik, sudah seharusnya kita menjadi bagian dari sistem yang baik pula.
Jangan pernah mengambil hak atau merugi orang lain, bahkan merampasnya demi kepentingan sendiri, karena itu sudah termasuk korupsi, Mulai dari diri sendiri karena perubahan dimulai dari diri sendiri juga. Mari kita jadikan integritas sebagai nilai utama dalam kehidupan sehari-hari. Selamat hari anti korupsi! *)
























