
TANAH DATAR, forumsumbar-—Istano Silinduang Bulan Darul Qoror Pagaruyung menjadi salah satu obyek itenerary kuliah lapangan budaya Minangkabau mahasiswa Universitas Bung Hatta Padang, Sabtu (25/11/2023).
Selain, Silinduang Bulan, 254 orang mahasiswa jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Bisnis dan PGSD FKIP itu juga melihat arsitektur rumah gadang di Pariangan, di Situjuah Luhak 50 Koto dan di Pinang Balirik yang juga menganalisa arsitektur rumah gadang, pada tiga luhak ini masing-masing memiliki perbedaan arsitektur bangunan rumah gadangnya.
Saat di Istano Silinduang Bulan di Pagaruyung, rombongan mahasiswa yang didampingi para dosen yang dikoordinir DR Wirnita Eska, disambut Raja Alam Minangkabau Pagaruyung Daulat Muhammad Farid Tuanku Abdul Fatah diwakili Sutan Nirwansyah Tuanku Mudo Bakilaf Alam beserta datuk-datuk Pagaruyung dan perangkat kerajaan.
Koordinator rombongan kuliah lapangan mahasiswa UBH Padang Wirnita Eska menyebutkan bahwa para mahasiswa diberikan seminar mengenai adat Minang di Silinduang Bulan, materinya tentang prinsip orang Minang dalam berdagang atau bisnis dan pendidikan melalui anak dipangku kenenakan dibimbing.
“Nanti para mahasiswa kita tugasi membuat laporan tertulis oleh masing-masing individu,” kata Wid, panggilan akrab Wirnita.
Daulat Rajo Alam Pagaruyung diwakili Sutan Nirwansyah, kepada para mahasiswa, sedikit bersejarah mengenai kerajaan Pagaruyung. Mulai dari zaman kerajaan Majapahit, masuknya Islam ke Minangkabau, hingga sejarah kerajaan di Minangkabau.

“Istano Silinduang Bulan ini didirikan oleh Sultan Alif Kalifullah atau yang juga dikenal Sutan Bakilaf Alam yang merupakan cicit dari Raja Adityawarman dan Istano Basa Pagaruyung adalah replika dari Istano ini, tapaknya dulu di sini kemudian dibangun yang baru di sana,” ujar Nirwansyah.
Ia juga menyampaikan selamat datang di Silinduang Bulan, selamat di tempat kunjungan yang lain dan selamat sampai di rumah, katanya.
Materi adat dan budaya Minangkabau disampaikan oleh Sutan Nirwansyah mewakili Rajo Alam, oleh Puti Reno Refita dan Mustafa Akmal Dt Sidi Ali.
Para mahasiswa juga berdialog dan mengajukan pertanyaan tentang budaya Minangkabau saat itu, juga menyaksikan pasambahan dan pepatah-petitih menjelang makan bersama.
(FM)























