BUKITTINGGI, forumsumbar —Dengan semakin pesatnya perubahan teknologi di era Revolusi Industri 4.0 saat ini, persoalan kebencanaan tidak bisa lagi diurus secara konvensional, kecepatan (speed) dan kualitas (quality) haruslah menjadi perhatian utama, sehingga kerja kebencanaan menjadi optimal.
Kemudian bagi jurnalis, pemberitaan kebencanaan wajib mencari sumber informasi yang tepat, dan jangan sampai membuat masyarakat menjadi tambah panik dan gaduh, baik secara sosial maupun ekonomi. Persoalan ini karena menyangkut psikologis masyarakat, akibat pemberitaan yang tidak akurat, bisa berdampak buruk.
Hal itu disampaikan Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Yuliandre Darwis saat menjadi narasumber di acara bimtek Pengkajian Kebutuhan Pasca Bencana (Jitu Pasna) bagi jurnalis media informasi cetak dan elektronik, yang dilaksanakan BPBD Provinsi Sumbar, Rabu (30/10) di Grand Rocky Hotel Bukittinggi.
Media harus bisa memberikan kenyamanan kepada masyarakat, sebab menurut Yuliandre, literatur publik saat ini lemah terhadap bencana. “Di sinilah peran media menjadi sangat strategis dalam memberitakan dan menginformasikan kebencanaan secara objektif dan proporsional,” ujar doktor komunikasi publik itu.

Media harus memiliki rasa empati kepada korban bencana. Jangan hanya karena untuk mendapatkan berita yang ‘badnews is good news‘ mengabaikan sisi kemanusiaan dan melanggar Kode Etik Jurnalistik yang ada. “Jauhkan konsep hoaks, yang bisa membuat kacau informasi bagi masyarakat yang ditimpa bencana, maupun yang menerima berita. Jadilah seperti muazin, yang mengumandangkan adzan untuk terus berbuat baik,” ucap Yuliandre.
Kemudian, sebut mantan Uda Sumbar itu, kejujuran adalah pondasi dasar dari jurnalistik. Penting bagi jurnalis untuk melakukan verifikasi dan validasi dalam pemberitaan, khususnya yang menyangkut kebencanaan. Narasi-narasi yang dibangun itu jangan sampai menakutkan, tetapi bagaimana membangun narasi-narasi yang positif dan saintifik.
Acara bimtek yang diikuti 90 peserta dari media cetak, elektronik dan online, serta BPBD kabupaten / kota se-Sumbar itu dibuka oleh Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sumbar Erman Rahman, merupakan acara bimtek yang pertama kali diadakan, dan rencananya akan berlanjut untuk angkatan berikutnya.
Sementara pelaksana acara Kabid Rehab-Rekon BPBD Provinsi Sumbar Suryadi menyampaikan, awalnya sedikit media yang mendaftar ulang, tetapi pas saat acara, 200 lebih yang ingin ikut. “Karena keterbatasan anggaran, ke depan kami akan mengakomodir rekan-rekan jurnalis yang tidak bisa ikut sekarang,” janjinya. (Isa)























