JAKARTA, forumsumbar — Berpulangnya kerahmatullah Ketua Dewan Pers Prof Azyumardi Azra membuat banyak pihak menyampaikan rasa duka yang dalam, khususnya bagi mereka yang pernah mengenal mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah itu.
Berita duka itu beredar luas setelah Prof Azyumardi Azra yang dirawat di RS Serdang, Selangor, Malaysia, dinyatakan meninggal dunia, Minggu (18/9/2022). Setelah itu tak henti-henti ucapan dukacita beredar di media-media sosial dan grup-grup WhatsApp.
Tak ketinggalan ucapan dukacita datang dari Irman Gusman, Ketua DPD RI Periode 2009-2016, yang kenal dekat dengan Prof Azyumardi Azra, dan kebetulan beberapa waktu yang lalu sempat mengadakan pertemuan dengan almarhum.
“Kita kehilangan sosok cendekiawan Islam yang ilmunya tinggi. Dimana pemikirannya jernih dan komprehenshif. Tetapi dalam kesehariannya sangat bersahaja. Rendah hati,” ujar Irman Gusman.
Kemudian, sebut Irman, meninggalnya Prof Azyumardi merupakan duka yang dalam bagi Ranah Minang. Sebab almarhum merupakan sosok intelektual asal Minang yang keilmuannya sangat disegani di tingkat nasional maupun internasional.
“Wawasan kebangsaan almarhum sangat kuat, sehingganya pemikiran-pemikiran almarhum menjadi solusi dari permasalahan kebangsaan yang muncul,” kata Irman Gusman lagi, yang sama-sama berlatar belakang persyarikatan Muhammadiyah dengan Prof Azyumardi.
Sebagaimana diketahui Prof Azyumardi Azra merupakan putra Minang kelahiran Lubuk Alung Kabupaten Padang Pariaman, dan kepeduliannya terhadap kampung halaman cukup tinggi, khususnya di dalam mendorong kaum muda Minang menjadi cendekiawan Islam dengan kuliah di UIN.

Azyumardi Azra dan Sepenggal Sajaknya
Disampaikan Irman, pada saat pertemuan di rumah Anggota DPR RI Guspardi Gaus awal tahun ini, ia pernah mengusulkan kepada beberapa tokoh Minang yang hadir agar bisa diangkatkan sebuah seminar internasional tentang Prof Azyumardi Arza di Padang, dimana Gubernur Sumbar bisa menjadi penyelenggaranya.
“Tokoh Minang yang hadir dalam acara informal tersebut, seperti Pak Anwar Abbas dan Uda Basril, pemilik Harian Singgalang, turut mendukung. Sementara Pak Azyumardi, istri dan putranya, yang ikut hadir, hanya tersenyum-senyum saja,” tukas Irman.
Alasan Irman mengapungkan acara seminar tersebut, karena hanya Prof Azyumardi Azra, putra Minang, yang keintelektualannya diapresiasi oleh akademisi global. Dengan demikian Prof Azyumardi telah mengharumkan nama Indonesia.
“Dua malam lalu, saya mendengar Pak Azyumardi sakit ketika mendarat di Selangor, Malaysia. Dan tadi (Minggu 18 September 2022 ; Red), Pak Suharso Monoarfa menelepon tentang kebenaran kepergian Pak Azyumardi di Kuala Lumpur. Setelah saya cek, saya meneteskan air mata,” ungkap Irman.
Kemudian, kata Irman, ia teringat salah satu penggalan sajak almarhum ketika menjadi murid PGA (Pendidikan Guru Agama) di Sumbar. Dimana sajak berbahasa Inggris itu dimuat di Harian Indonesian Observer yang diterbitkan BM Diah: ‘Where my heart should be anchored?‘. Yang kurang lebih artinya; Dimana hatiku akan berlabuh?
(Ika)























