forumsumbar / “ROMBONGAN PLN, rombongan PLN,” sorak bapak paruh baya itu memanggil para penumpang yang masih duduk-duduk di kedai minuman di selasar pelabuhan Muaro Padang, tempat keberangkatan kapal Mentawai Fast ke Mentawai. Hari sudah menunjukkan pukul 6.15 wib pagi.
Imbauan bapak tadi itu pertanda bahwa kapal akan segera berangkat. Beberapa orang mulai beranjak dari duduknya, sambil memegang tiket. Kami, rombongan jurnalis pun satu persatu mulai berdiri. Walaupun tidak termasuk rombongan PLN, tapi tujuan sama ke acara peresmian pembangkit listrik berbahan baku bambu di Desa Saliguma Kecamatan Siberut Tengah Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Kapal Mentawai Fast ada 2, satu dicarter untuk mereka yang akan ikut acara di Desa Saliguma – Siberut, dan satu lagi keberangkatan sesuai jadwal reguler, katanya ke Sikabaluan Siberut Utara. Jadi Pelabuhan Muaro Padang pagi itu memang terlihat sedikit agak ramai.
Tidak beberapa lama kapal Mentawai Fast yang kami tumpangi berangkat ke Siberut. Kapal di-isi rombongan dari PLN –baik yang dari pusat maupun Sumbar, staf Pemkab Mentawai dan para jurnalis, yang jumlahnya sekitar 80 orang. Setelah beberapa jam perjalanan, tepat pukul 9.55 wib kami mendarat di Desa Saliguma – Siberut.
Biasanya kapal Mentawai Fast ini mendaratnya di Pelabuhan Maileppet, tapi karena membawa rombongan yang akan mengikuti acara peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) oleh Menteri PPN/Bappenas Bambang Brojonegoro di Saliguma, maka kapal langsung ke tempat acara.
****
Di saat sumber energi yang berasal dari fosil sudah menipis, maka dunia mulai mengalihkan pandangan ke energi baru dan terbarukan (EBT), seperti biomassa, solar cell dan panas bumi. Jadi ide membuat pembangkit listrik berbasis bambu di Mentawai adalah sebuah langkah yang cemerlang. Walaupun Mentawai masih termasuk kategori kabupaten tertinggal, tapi pemikirannya tidak tertinggal. Malahan visinya jauh ke depan.
Tahap awal pembangunan listrik berbasis bambu itu ada 3 desa, Desa Madobag dan Matotonan di Kecamatan Siberut Barat Daya, dan Desa Saliguma di Siberut Tengah. Dari ketiga pembangkit itu bisa menghasilkan listrik 700 kW yang mampu menerangi 1233 rumah.
Pembangkit dikelola oleh Perusda yang didirikan oleh Pemkab Mentawai, dan listrik yang dihasilkan dijual ke PT PLN (Persero) dengan menanda tangani kerja sama di antara kedua pihak. PLN kemudian yang membuat jaringan ke rumah-rumah warga dan memasang meteran.
Mengenai bahan baku bambu, saat ini Perusda yang mengelola listrik, bekerjasama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) mengharuskan tiap rumah untuk menanam bambu seluas 1 ha, dan bibitnya dikasih gratis. Penanaman massal tersebut sudah berjalan dan diharapkan bisa dipanen 3 tahun ke depan. Adapun bambu-bambu tersebut nantinya akan dibeli oleh Perusda.
Ketiga pembangkit berbasis bambu yang sekarang mulai beroperasi di Mentawai merupakan hibah dari Millenium Challenge Account (MCA) Indonesia dengan pengembang PT Charta Putra Indonesia (CPI). Kemudian melalui Bappenas diserahkan hibah tersebut ke Pemkab Mentawai untuk dikelola secara baik guna menyejahterakan masyarakat.
****
Di tengah-tengah issu dunia bagaimana penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT) sudah semakin mendesak, pembangkit listrik tenaga biomassa merupakan salah satu jawabannya. Jadi apa yang telah dibuat di Mentawai, dengan membangun pembangkit listrik berbasis bambu yang ramah lingkungan harus bisa menjadi percontohan, baik di Sumbar maupun secara nasional.
Keunggulan Thailand dan Vietnam di bidang pertanian saat ini karena didukung adanya energi murah yang ramah lingkungan, seperti dari sekam padi dan biomassa lainnya. Karena faktor energi yang murah tadi sehingganya biaya produksi menjadi rendah, dan nilai jual menjadi kompetitif. Beda dengan kita, energinya yang mahal.
Seperti kata orang bijak, siapa yang menguasai energi berarti ia menguasai dunia. Maka, kuasailah energi (baru dan terbarukan).
Penulis : Isa Kurniawan / Koordinator Komunitas Pemerhati Sumbar (Kapas)























