
PADANG, forumsumbar —Ketua Umum DPP IKA Universitas Andalas (Unand), Denny Abdi menegaskan bahwa ambisi Indonesia Maju 2045 tidak akan tercapai tanpa peran kuat sektor kesehatan, khususnya Fakultas Kedokteran (FK). Ia mengingatkan, ketergantungan ekonomi Indonesia pada kekayaan alam adalah jalan buntu.
“Kekayaan alam pasti habis. Yang tidak habis itu kekayaan intelektual—inovasi, riset, dan olahan otak manusia,” kata Denny usai melantik pengurus DPP IKA FK Unand, di Gedung Serbaguna FK Unand Jati Padang, Minggu (1/2/2026).
Kesempatan itu, juga dilelang sejumlah buku karya dosen FK Unand.
Menurutnya, motor ekonomi masa depan bukan lagi tambang dan komoditas, melainkan inovasi berbasis SDM sehat, cerdas, dan produktif. Di titik inilah peran dokter menjadi krusial, bahkan sejak fase paling awal kehidupan manusia.
“Kalau isu dasar seperti stunting tidak kita bereskan, kita sedang menyiapkan lost generation,” tegasnya.
Denny menyebut, dokter sejatinya adalah aktor paling awal dalam pembangunan bangsa—mengawal kesehatan sejak janin, memastikan gizi, kecerdasan, hingga kesiapan anak memasuki dunia pendidikan. Tanpa itu, kualitas pendidikan setinggi apa pun akan rapuh.
Sebagai salah satu fakultas kedokteran tertua di Indonesia, berdiri sejak 1955, FK Unand diharapkan ikut memikul tanggung jawab strategis ini, tidak hanya untuk Sumatera Barat, tetapi juga nasional.
Rektor Unand Efa Yonnedi menegaskan arah pengembangan FK Unand ke depan: riset berkualitas, inovatif, produktif, dan berjejaring internasional. Menurutnya, FK Unand tidak kekurangan talenta maupun jaringan alumni. Tantangannya adalah memastikan riset tidak berhenti di jurnal, tetapi menjelma menjadi produk nyata yang memperkuat kemandirian kesehatan nasional.
“Selama ini kita terlalu bergantung pada impor. Targetnya jelas: produk kesehatan buatan peneliti Indonesia,” ujarnya.
Di bidang bioteknologi kesehatan, FK Unand telah menghasilkan puluhan produk diagnostik cepat, termasuk alat deteksi penyakit yang telah lolos uji dan masuk e-katalog nasional. Artinya, produk ini sudah siap digunakan fasilitas kesehatan.
Pengalaman saat pandemi Covid-19 menjadi bukti konkret. FK Unand terlibat langsung dalam tracing, testing, hingga pengendalian pandemi, dengan modal riset, SDM, dan jejaring alumni nasional-internasional.
Jamin Tak Ada Mahasiswa DO
Ketua DPP IKA Fakultas Kedokteran Unand dr Yevri Zulfiqar menegaskan komitmen alumni untuk menopang ekosistem pendidikan dan riset FK Unand secara nyata, bukan sekadar jargon.
“Kami tidak ingin ada satu pun mahasiswa FK Unand drop out karena masalah biaya. Mau 100 juta, 200 juta, kami bayar,” tegasnya.
IKA FK Unand memiliki lembaga zakat alumni yang secara khusus disiapkan untuk menjamin keberlanjutan studi mahasiswa. Selain itu, alumni juga siap mendukung riset strategis, mulai dari kesehatan masyarakat, biologi sel, stem cell, hingga pengembangan pascapandemi.
Alumni juga menyatakan siap membantu pemerintah mengatasi ketimpangan distribusi dokter, terutama di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), dengan membuka akses kerja bagi lulusan FK Unand.
Menanggapi maraknya penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam dunia medis, Yevri menilai teknologi adalah alat bantu, bukan pengganti dokter. “AI bisa membaca rontgen, EKG, literatur jutaan data. Tapi keterampilan klinis dan keputusan medis tetap manusia yang pegang,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa AI justru membuka ruang riset baru bagi dunia kedokteran, selama dikawal dengan etika, penelitian, dan konteks klinis yang kuat.
Dengan kolaborasi fakultas, alumni, dan jejaring global, FK Unand diproyeksikan tidak hanya mencetak dokter, tetapi menjadi pabrik inovasi kesehatan—penopang utama Indonesia yang ingin hidup dari kecerdasan, bukan sekadar sumber daya alam.
(R/Romy)























