
PADANG, forumsumbar –— Pembukaan Pameran Seni Rupa Abstrak Kemerdekaan, Lumbuang Karya #1 yang digagas Komunitas Seni Bunga Padi Official berjalan sukses di Galeri Youth Center Lantai 2, Gedung Youth Center Padang, Kamis (20/8/2026).
Pameran yang diketuai oleh Zura W. Dzulkarnaen ini menghadirkan 24 karya kanvas, 16 karya drawing, empat karya patung dan satu karya instalasi. Sejumlah seniman perupa yang terlibat di antaranya John Hardi, Zereflina, Teguh Prihatin, dan Irwanto pada karya lukis, Doni Bule dan Teguh Prihatin pada karya patung serta Ramadhanil Putra yang memamerkan karya instalasi.
Penyelenggaraan pameran ini membawa kesegaran baru bagi para pencinta seni rupa, khususnya seni abstrak. Tidak hanya menampilkan karya visual, Komunitas Seni Bunga Padi juga menyemarakkan acara dengan pertunjukan seni panggung, pembacaan puisi, dan dramatisasi puisi oleh Arif Pratama Putra serta Sonia Dwi Anisa.
Pameran Lumbuang Karya #1 ini menjadi angin segar sekaligus pemantik vitalitas iklim seni rupa di Sumatera Barat yang kaya akan potensi kreatif namun membutuhkan konsistensi ruang eksibisi.
Melalui ajang ini, publik tidak hanya disuguhkan diskursus visual yang hangat, tetapi juga dampaknya secara ekonomi yang nyata dengan terjual habisnya (sold out) 16 karya drawing di hari pembukaan.
Selain itu, kegiatan ini terbukti efektif menjadi wadah jejaring antarseniman, penguatan edukasi seni bagi masyarakat, serta penggerak ekosistem seni daerah agar semakin bergairah dan berkelanjutan.
Menurut Ketua Pelaksana Zura W. Dzulkarnaen, kehadiran pameran ini sekaligus membuktikan bahwa seni lukis abstrak memiliki tempat tersendiri dan sangat bisa dicintai oleh publik Sumatera Barat.
“Meskipun kerap dianggap rumit dan penuh teka-teki, garis, warna, serta komposisi non-representasional dalam aliran abstrak nyatanya mampu menyentuh emosi dan memantik imajinasi masyarakat lokal secara universal,” ujarnya.
Apresiasi yang tinggi dari para penikmat seni di Padang menunjukkan bahwa masyarakat kian terbuka terhadap berbagai bentuk ekspresi visual modern. Seni abstrak tidak lagi dipandang jarak jauh, melainkan dinikmati sebagai media dialog batin antara pengalaman personal penikmatnya dengan gagasan yang dituangkan oleh sang seniman.
Respons positif ini juga dirasakan langsung oleh para pengunjung yang hadir. Kehadiran pameran ini dinilai berhasil menjembatani masyarakat awam untuk mengenal dan memahami seni lukis abstrak lebih dekat.
“Pameran ini benar-benar membuka wawasan baru bagi kami. Jujur, awalnya saya kurang memahami lukisan abstrak, tetapi dengan melihat langsung karya-karya di sini dan memperhatikan bentuknya, saya jadi bisa menikmati kebebasan ekspresi dan makna mendalam di balik setiap gambarnya. Kegiatan seperti ini sangat membantu mengenalkan bentuk seni baru yang segar bagi masyarakat,” ujar Fatya salah seorang pengunjung.
Acara ini juga menjadi dorongan moril yang sangat kuat dan memotivasi para pelukis muda untuk terus berkarya, mengeksplorasi gagasan, serta berani tampil menunjukkan identitas artistik mereka di ruang publik.
Kegiatan ini pun memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan program Dinas Pariwisata Kota Padang dalam mengoptimalkan Gedung Youth Center sebagai pusat ekonomi kreatif dan destinasi wisata berbasis seni budaya.
Saat membuka acara secara resmi, Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang, Yenni Yuliza yang diwakili oleh Kepala Bidang Ekraf Wirdanis menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya pameran ini.
“Pemerintah Kota Padang melalui Dinas Pariwisata sangat mendukung penuh inisiatif ruang-ruang kreatif seperti ini. Pameran Lumbuang Karya #1 tidak hanya menghidupkan ekosistem ekonomi kreatif daerah, tetapi juga sejalan dengan komitmen kami dalam menjadikan Youth Center sebagai rumah kolaborasi dan panggung ekspresi bagi para pelaku seni. Kami berharap momentum ini dapat melahirkan inovasi karya yang berdaya saing serta memperkuat daya tarik wisata berbasis seni dan budaya di Kota Padang,” ungkap Ibu Wirdanis mewakili Kepala Dinas Pariwisata.
“Lumbuang Karya #1 dirancang untuk menguji sekaligus menyegarkan kembali iklim seni rupa di Sumatera Barat. Bibit terbaik tidak akan pernah menjadi pohon yang rindang tanpa siraman ruang apresiasi,” ujar Irawan Winata selaku kurator pameran.
(Ego Rusdianto)






















