
JAKARTA, forumsumbar — Buya Drs H Mas’oed Abidin Jabbar (90 tahun), lahir pada 11 Agustus 1935 di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dikenal sebagai seorang ulama, intelektual, budayawan, dan penulis Minangkabau yang sangat prolifik.
Dapat dikatakan, sepanjang hidupnya selain aktif berdakwah, beliau juga sangat aktif memperjuangkan penguatan adat, budaya, pendidikan, dan nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.
Buya Mas’oed adalah anak didik dari pahlawan nasional H Muhammad Natsir —-seorang intelektual, ulama dan tokoh pemikir Islam, politikus, dan pejuang kemerdekaan Indonesia, yang juga orang Minangkabau.
Dalam dunia keorganisasian, Buya Mas’oed pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Sumatera Barat, Wakil Ketua Dewan Penasehat MUI Sumatera Barat, Ketua Umum Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Sumatera Barat, Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau (PPIM), Ketua Umum Badan Amil Zakat (BAZ) Provinsi Sumatera Barat.
Buya telah melahirkan puluhan berbagai karya pemikiran, tulisan, dan gagasan yang berkontribusi besar dalam memperkuat falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Syarak Mangato Adat Mamakai sebagai fondasi jati diri Minangkabau.
Di antara buku-buku hasil karya pemikiran Buya Mas’oed : 1) “Adat dan Syarak di Minangkabau” (2004), 2) “Implementasi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (2004), kedua-duanya diterbitkan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau, 3) “Tiga Sepilin Surau: Solusi untuk Bangsa (2016) merupakan himpunan pemikiran tentang fungsi surau dalam pendidikan, pembinaan umat, dan pembangunan karakter masyarakat Minangkabau, 4) “Ensiklopedi Minangkabau” (2005), karya besar ini menghimpun berbagai pengetahuan tentang sejarah, adat, budaya, tokoh, dan peradaban Minangkabau, dan dianggap sebagai salah satu karya dokumentasi budaya Minangkabau paling penting.

Belakangan ini Buya Mas’oed Abidin, semakin bertambah umur nampaknya semakin produktif melahirkan berbagai karya bernuansa Minangkabau, dengan mangumpuan nan taserak, manjapuik nan tatingga, beliau mengumpulkan berbagai bahan sejarah sehingga melahirkan buku “Tambo Nagari-Nagari Luhak Nan Tigo” (2023). serta “Tambo Nagari-Nagari Ranah Rantau” (2023).
Selain aktif berdakwah dan menulis, Buya juga dikenal seorang yang konsisten membina generasi muda serta mendorong pelestarian budaya dan tradisi intelektual Minangkabau.
Dedikasi Buya H Mas’oed Abidin dalam mengembangkan literasi budaya, pemikiran keislaman, dan peradaban Minangkabau menjadikan beliau sebagai salah satu tokoh penting yang dihormati di ranah dan rantau.
Atas jasa dan pengabdian tersebut, Forum Silaturrahmi “Mufakat Ranah dan Rantau” MDN-G 2026 dengan penuh hormat menganugerahkan: “Anugerah Mahakarya Literasi Budaya Minangkabau”
(Putrie)
Sumber: Minang Diaspora Network Global






















