
PADANG PARIAMAN, forumsumbar —-Datuak di Minangkabau adalah gelar pusako adat dalam suatu suku atau kaum, yang diberikan kepada seseorang dalam suku atau kaum itu sendiri. Proses pemilihan atau penunjukannya, diangkat oleh sanak kemenakannya melalui kesepakatan. Untuk kemudian dikukuhkan dan dilewakan secara adat, dengan syarat-syarat tertentu menurut adat salingka nagari.
Dalam sebuah prosesi adat suku Koto, Andi Yusman resmi menyandang gelar adat Datuak Koto Nan Gadang Batuah. Pengukuhan yang berlangsung di Korong Olo Bangau Nagari Katapiang Kecamatan Batang Anai, Minggu (3/5/2026) tersebut, dilakukan oleh B. Rangkayo Rajo Sampono selaku pucuak adat di Nagari Katapiang, yang memiliki kewenangan dalam penobatan gelar niniak mamak dalam ulayatnya.
Acara yang berlangsung khidmat dan penuh makna ini, turut dihadiri oleh Wakil Bupati (Wabup) Padang Pariaman Rahmat Hidayat, Kepala Satpol PP dan Damkar Rifki Monrizal, bersama sejumlah tokoh masyarakat, ninik mamak, serta undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Wabup Rahmat Hidayat menyampaikan apresiasi atas terlaksananya prosesi pengukuhan gelar adat tersebu. Kegiatan ini dinilai sebagai wujud nyata pelestarian budaya di tengah perkembangan zaman dan kemajuan teknologi.
“Atas nama pribadi dan Pemerintah Daerah, saya mengucapkan selamat kepada Bapak Andi Yusman yang sekarang sudah resmi menyandang gelar adat Datuak Koto Nan Gadang Batuah dari suku Koto. Semoga dengan dilewakan di hadapan kita bersama, pak Datuak bisa menjadi suri tauladan, serta memahami tugas dan tanggung jawab terhadap sanak dan kemenakannya. Terutama dalam membina, mengayomi, melindungi dan mengatur pemanfaatan harta pusaka untuk kemakmuran bersama”, ujarnya.

Wabup menambahkan, bahwa sebagai Datuak harus bisa menjaga martabatnya. Karena gelar datuak yang disandangnya adalah gelar kebesaran, pusaka adat dalam suku atau kaumnya. Banyak pantangan dan larangan yang tidak boleh dilanggar oleh seseorang yang bergelar datuak dan tidak sedikit pula sifat-sifat positif yang wajib dimilikinya.
“Niniak mamak itu, ibarat kayu gadang di tangah koto. Daunnyo rimbun tampek batsduah, batangnyo tampek basanda, dahannyo tampek bagantuang dan ureknyo tampek baselo. Ka pai tampek batanyo, pulang tampek babarito. Kok sasek nan kamanyapo, tadorong nan kamanyinta. Tibo dikusuik kamanyalasai, tibo dikaruah mampajaniah“, pesan Wabup.
Dikatakan Wabup, dengan menyandang gelar Datuak Koto Nan Gadang Batuah diharapkan Andi Yusman mampu menjadi panutan, menjaga keharmonisan kaum, serta berperan aktif dalam pembangunan masyarakat di Nagari Katapiang dan sekitarnya. Disamping itu, juga harus tetap menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga di rumah tangganya terhadap anak dan istrinya.

“Seperti kata pepatah “Anak dipangku kamanakan dibimbiang, tampuruang lenggang lenggokkan, dibaok urang ka saruaso”, artinya anak dipangku jo pancarian, kamanakan dibimbiang jo pusako, urang kampuang dipatenggangkan, tenggang nagari sarato jo adatnyo.”, tutupnya.
Suasana haru dan kebanggaan yang menyelimuti jalannya acara, diakhiri dengan doa bersama serta jamuan adat sebagai bentuk rasa syukur. Pengangkatan ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi keluarga besar Andi Yusman, tetapi juga bagi masyarakat di Nagari Katapiang. Nagari yang sampai saat ini masih menjunjung tinggi nilai adat dan tradisi, yang ndak lapuak dek hujan dan indak lakang dek paneh.
(AS)























