
Oleh: Nadia Nasmita Ramadan
TABUIK Pariaman merupakan salah satu warisan budaya takbenda di Sumatera Barat. Tabuik dari sekitar 2 abad yang lalu sampai sekarang masih dijaga kelestariannya. Tabuik Pariaman adalah perayaan yang dirayakan setiap tahun pada tanggal 10 Muharram untuk memperingati kematian Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, dalam Perang Karbala.
Tabuik di Pariaman adalah perayaan yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Di hari puncak hoyak Tabuik Pariaman, lautan manusia meramaikan Kota Pariaman dari berbagai daerah, dan ada juga warga negara asing yang berkunjung saat perayaan puncak hoyak tabuik tersebut.
Orang Pariaman melafalkan tabut menjadi tabuik karena dialek orang di Pariaman konsonan yang berakhiran “t” dilafalkan dengan “ik”.
Adapun asal usul nama Tabuik adalah dari bahasa Arab yaitu tabut yang bermakna peti kayu. Contoh lain dari pelafalan orang Pariaman yaitu kabut menjadi kabuik.
Tabuik memang setiap tahun dirayakan, tetapi karena pandemi Covid-19 kemarin, 2 tahun tidak dirayakan. Dan tahun kemarin sudah dirayakan kembali. Dan tentu saja Kota Pariaman dipenuhi lautan manusia yang jumlahnya puluhan ribu.
Perayaan Tabuik di Pariaman meningkatkan perekonomian penduduk setempat, karena pada masa pandemi sangat sepi yang berkunjung ke wisata Kota Pariaman.
Tabuik Pariaman ada dua macam, yaitu; Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Awal tradisi Tabuik di Pariaman hanya ada satu yaitu Tabuik yang dari Tabuik Pasa. Sekitar tahun 1915, atas permintaan masyarakat untuk dibuatkan Tabuik lainnya dari daerah Subarang dan kesepakatan para ketua Nagari Tabuik harus dibuat dari daerah Subarang dan sampai sekarang dinamakan Tabuik Subarang.
Perayaan Tabuik dijadikan kalender pariwisata Kota Pariaman. Karena hal ini terjadilah penyesuaian puncak hoyak tabuik yaitu tidak mengharuskan pada 10 Muharram dan setiap tahunnya berubah-ubah.
Rangkaian kegiatan perayaan tradisi Hoyak Tabuik di Pariaman ini ada 7 macam rangkaian kegiatan, dari tanggal 1 Muharram sampai tanggal 10 Muharram.
Pertama, mengambil tanah. Kedua, menebang batang pisang. Ketiga, mataam. Keempat, mengarak jari-jari. Kelima, mengarak sorban. Keenam, dilanjutkan tabuik naik pangkek. Kemudian, ketujuh, di hari puncaknya yaitu hoyak tabuik, dengan membuang tabuik ke tengah laut.
Tahapan pertama, pengambilan tanah dilaksanakan pada tanggal 1 Muharram. Kedua, menebang batang pisang pada tanggal 5 Muharram. Ketiga, maatam pada tanggal 7 Muharram. Keempat, mangarak jari-jari dilanjutkan malam hari tanggal 7 Muharram.
Dan kelima, esok harinya di sambung dengan mangarak sorban.
Pada hari puncak hoyak Tabuik, keenam, dilakukan ritual tradisi naik pangkek. Setelah itu, ketujuh, dilanjutkan dengan Hoyak Tabuik. Hari puncak Hoyak Tabuik dulu biasa tanggal 10 Muharram sekarang berubah menjadi antara 10-15 Muharram dan menyesuaikan akhir pekan untuk puncak Hoyak Tabuik.
Hari puncak Hoyak Tabuik menjelang Maghrib Tabuik diarak ke tepi pantai dan dilarungkan ke laut. Tabuik yang dilarungkan ke pantai banyak masyarakat berbondong-bondong mengambil bagian-bagian Tabuik tersebut karena adanya keyakinan yang mereka percayai dan keyakinan tersebut banyak variasinya, seperti untuk penglaris usaha dagang, keyakinan ini sangat banyak yang mempercayai dan berlomba-lomba mendapatkan bagian-bagian dari Tabuik yang dilarungkan ke Laut.
Setiap tahun perayaan yang ditunggu-tunggu yaitu puncak Hoyak Tabuik selalu disaksikan sampai puluhan ribu pengunjung dari berbagai daerah dan luar daerah Sumatera Barat.
Tidak hanya masyarakat Sumbar saja, turis asing juga datang berkunjung dan melihat perayaan Hoyak Tabuik di Pariaman. Semua jalan di Kota Pariaman menjadi padat dan mengalami kemacetan parah, terutama di jalan di tepi pantai, tepatnya di Pantai Gandoriah menjadi tempat titik pusat perayaan Hoyak Tabuik ini. *)
Penulis adalah Mahasiwa Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Andalas (Unand)























