
Oleh: Monica Milda Fitriani
RUTINITAS yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau setiap tahun sebelum memasuki bulan suci Ramadhan, yakni berziarah ke makam keluarga yang telah meninggal untuk membersihkan pusara dari rumput liar, kemudian di siram air mawar dan bunga, baru setelah itu melakukan doa bersama.
Masyarakat meluangkan waktunya untuk pergi berziarah dengan tujuan; mendoakan yang telah meninggal (almarhum/almarhumah), menunaikan sunah rasul, dan untuk melihat bagaimana kondisi makam.
Terkadang jika sudah lama tidak pergi ke makam keluarga kita, biasanya kita lupa dan tidak mengetahui tanda bahwa itu salah satu makam keluarga. Jika makam di beri batu nisan yang ada tulisan nama itu akan mudah kita temui sebaliknya jika bukan diberi batu di sekeliling makam dan di tengahnya di letakkan batu yang berbentuk lonjong sebagai penanda itu lebih susah lagi mencarinya.
Setelah pergi ke makam biasanya keluarga membuat acara mandoa manjalang ka puaso. Acara ini sebagai ungkapan rasa syukur kita telah di beri kesempatan untuk merasakan kembali bulan suci Ramadhan. Tidak hanya sebagai ungkapan rasa syukur saja, tapi acara ini juga di peruntukkan untuk keluarga yang sudah meninggal.
Mandoa
Penulis pernah mendengar cerita dari nenek, dimana beliau berkata jika orang yang sudah meninggal itu biasanya mereka meminta doa kepada kita, maka dari itulah acara mandoa itu diadakan. Apa lagi ada salah satu anggota keluarga yang meninggal, maka itu harus di laksanakan.
Tapi jika keluarga tersebut tidak mengadakan acara mandoa itu maka orang yang sudah meninggal akan datang kepada salah satu keluarga yang masih hidup di dunia. Konon mereka datang ke mimpi. Dalam mimpi itu mereka meminta segelas air. Biasanya mimpi seperti itu merupakan pertanda bahwa almarhum minta didoakan.
Kejadian seperti ini tergantung kepada keyakinan masing-masing, percaya atau tidaknya itu tergantung pada diri sendiri. Tapi peristiwa seperti itu pernah dialami oleh beberapa orang dan cerita ini sering juga diceritakan oleh orang yang berada di lingkungan penulis.
Sebenarnya acara mandoa itu jika tidak dilakukan tidak masalah tetapi rasa ketidak-tenangan dari keluarga yang di tinggalkan lah yang membuat keluarga melakukan acara mandoa. Selain itu acara mandoa ini membuat orang yang sudah meninggal akan tenang. Mereka akan senang karena telah didoakan. Hadiah terindah untuk keluarga yang sudah pergi untuk selamanya adalah doa.
Di setiap daerah memiliki cara yang berbeda untuk melaksanakan acara mandoa ini, yang pertama biasanya masyarakat berkumpul untuk menentukan hari kapan dilaksanakannya acara tersebut. Misal rumah si A akan mengadakan acara itu seminggu sebelum puasa pada waktu sesudah sholat isya, maka keluarga B akan mengadakan acara mandoa itu besoknya setelah rumah A telah selesai melaksanakan acara mandoa itu.
Jika waktu pelaksanaannya sama, maka salah satu keluarga harus mengalah. Kalau tidak mengalah maka acara mandoa di salah satu rumah tidak ada yang datang sehingga terjadi perselisihan antara kedua belah keluarga dan itu membuat apa yang telah di persiapkan pemilik rumah terbuang dan mubazir. Kejadian seperti ini lah yang sangat dihindari oleh masyarakat, maka dari itu, acaranya harus diadakan sesuai dengan waktu yang telah didapatkan.
Cara pelaksanaannya adalah, pertama, ustad akan memimpin doa bersama. Kedua, setelah berdoa bersama tamu yang sudah datang di persilahkan untuk makan. Ketiga, setelah makan para tamu saling bersalaman dan sama-sama keluar dari rumah dan menuju ke rumah masing-masing.
Marandang dan Balimau
Masyarakat menjelang memasuki hari pertama puasa mereka selalu melakukan tradisi marandang. Membuat randang (rendang) dengan alasan makanan rendang itu tahan lama, jadi saat kita memakannya waktu sahur rasa dari rendang itu tidak berubah. Keunggulan dari rendang adalah salah satu makanan yang cukup bertahan lama. Rendang merupakan makanan khas dari Sumatera Barat.
Kemudian, tradisi balimau merupakan tradisi yang telah turun temurun dilakukan oleh masyarakat Minangkabau. Banyak tradisi yang dilakukan sebelum memasuki bulan suci Ramadhan, salah satunya adalah tradisi balimau. Cara pelaksanaannya yaitu; mandi balimau di lakukan di sungai pamandian dan bisa juga di rumah.
Kebanyakan masyarakat Minangkabau berbondong-bondong pergi ke pamandian untuk melaksanakan tradisi balimau. Selanjutnya mandi balimau hampir sama dengan cara mandi pada umumnya, namun ada yang sedikit berbeda dengan cara mandi pada umumnya yaitu : mandi balimau, menggunakan limau untuk sampo, atau sabun.
Limau yang di gunakan biasanya dijual di pasar-pasar tiga hari menjelang memasuki bulan suci Ramadhan. Bukan hanya limau untuk balimau saja, tapi limau hias yang akan diantarkan ke rumah mertua juga banyak dijual oleh masyarakat.
Tradisi ini dilakukan dengan tujuan untuk menyucikan diri sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Mandi balimau ini merupakan tradisi yang menurut penulis tidak akan hilang meskipun saat pandemi melanda. Tradisi ini tetap di lakukan meskipun hanya di rumah saja, masyarakat tetap antusias dalam melaksanakannya.
Semua tradisi ini merupakan beberapa tradisi yang di lakukan sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Jika kita melakukan semua pekerjaan tanpa ada rasa mengeluh dan selalu mengingat Allah semua pekerjaan akan merasa ringan tanpa ada beban sedikit pun.
Masing-masing daerah yang ada di indonesia memiliki cara tersendiri untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Pada bulan inilah semua masyarakat akan beramai-ramai untuk pergi ke masjid menjalankan semua rangkaian ibadah. Tiada kata terlambat untuk bertaubat. *)
Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand)























