PADANG, forumsumbar—Mengerikan, penyakit produk jurnalisme kian parah di tengah perayaan kemerdekaan pers yang didukung kemajuan teknologi informasi. Entah stadium ke berapa tak tahulah itu.
Namun yang jelas kualitas dari produk jurnalisme di tangan orang yang tak pernah mau belajar ilmu jurnalistik memang membuat kepercayaan publik mengalami penurunan kian signifikan terhadap media online.
“Jurnalisme itu memiliki tatanan filosofis, teoritis, praksis yang dialaskan dengan etik dalam mengusung kebenaran faktual. Membutuhkan ketekunan dan kerajinan verifikasi dalam membangun narasi dengan mengandalkan sikap kritis tingkat tinggi terhadap informasi yang didapatkan,” ujar Abdullah Khusairi, dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, Sabtu (12/2), melalui akun fesbuknya.
Sering kali, sebut mantan wartawan Harian Padang Ekspres, Posmetro Padang dan Padang TV ini, postingan dari Mahaguru Jurnalistik, seperti Willy Pramudya dan Holy Adib membuat ngilu sendiri.
“Beberapa media online serampangan memanfaatkan jurnalisme untuk sensasi demi mendapatkan klik dari masyarakat kelas tertentu,” ungkap doktor Khusairi.
Menurut Khusairi lagi, perlu ada gerakan agar masyarakat kelas tertentu itu diajak untuk memahami tentang produk jurnalisme yang berkualitas, disamping masifnya kita mengirim (share) pesan tentang media-media layak baca yang memenuhi kadar dan mutu jurnalisme.
Bagaimanapun juga, katanya, kewajiban mendidik umat untuk tidak hanyut di arus informasi di tengah banjir informasi ini terpikul pada pundak para cendekiawan yang peduli terhadap peradaban umat.
(Ika)























