PADANG, forumsumbar —Bambu yang menjadi bahan bakar untuk Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm), yang beberapa waktu lalu diresmikan oleh Menteri Bappenas/PPN Bambang Brodjonegoro, bagi Mentawai bukan sekedar untuk mendapatkan energi listrik, tapi banyak lagi manfaatnya.
Di samping bisa menghasilkan listrik yang menerangi rumah masyarakat, hutan bambu yang ditanam nantinya bisa dijadikan sebagai tempat wisata. Kemudian bambu dijadikan karbon, dan industri kerajinan beraneka macam, merupakan multiplier effect yang didapatkan dari dibangunnya PLTBm berbahan bakar bambu di Mentawai.
Hal itu disampaikan Naslindo Sirait, Kepala Bappeda Kabupaten Kepulauan Mentawai saat acara diskusi publik dengan tema “Sumbar dan Energi Baru Terbarukan”, yang diadakan oleh Ikatan Wartawan Online (IWO Sumbar) bekerja sama dengan Komunitas Pemerhati Sumbar (Kapas), Rabu (9/10) di Cafe Kupi Batigo, Jl. KH Ahmad Dahlan – Padang.

“Bertanam bambunya bukan dalam sehamparan sekaligus, tapi ditanam di sekitar rumah masyarakat yang lahannya kosong, kemudian di sepanjang daerah aliran sungai. Ditargetkan masing-masing rumah bertanam bambu seluas 1 Ha,” ujar tamatan S2 Magister Manajemen UNP itu.
Lanjut Naslindo, untuk terus meningkatkan elektrifikasi di kabupaten yang masih termasuk kategori tertinggal itu, tiada pilihan lain bahwa energi baru terbarukan (EBT) berbasis bambu merupakan pilihan yang menjanjikan bagi masa depan Mentawai, yakni energi yang murah, berkelanjutan dan ramah lingkungan.
“Bambu yang ditanam masyarakat, kemudian dibeli oleh pembangkit seharga Rp700 per kilogram. Dari hasil jual bambu itu, masyarakat bisa bayar listrik dan kebutuhan lainnya,” imbuh Naslindo, sembari membandingkan dengan bertanam sawit, yang adakalanya harga per kilonya, di bawah harga jual bambu.
Begitu juga pembuatan karbon yang bisa dipergadangkan, serta industri kerajinan berbasis bambu, seperti membuat furnitur dan pernak-pernik lainnya. “Kita juga ingin agar ada pendidikan vokasi yang mengajarkan soal-soal kerajinan dan industrinya, sehingga dampak ekonomi dari bambu terhadap masyarakat bisa maksimal,” tukuk Naslindo.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai, menurut Naslindo, telah membuat Rencana Umum Energi Daerah, dan elektrifikasi yang saat ini masih berkisar 50%, diharapkan pada tahun 2030 sudah mencapai 100%, dimana seluruh desa di Mentawai sudah dialiri listrik, apakah itu dari bauran energi, atau dengan pertumbuhan PLTBm berbasis bambu, dan EBT lainnya. (Isa)























